Recent Posts

Home » » Sejarah Pancasila

Sejarah Pancasila

Written By Neno on Selasa, 10 April 2012 | 00.29

All share zone - Sejarah Pancasila, Idiologi, dan Dasar Negara Indonesia - allsharezone.com | Sejarah Pancasila mengalami lika-liku yang panjang. Pancasila tidak lahir dengan sendirinya. Prosesnya memakan waktu dan energi yang tidak sedikit. Mereka, bapak-bapak bangsa (founding fathers) telah mengorbankan tenaga dan waktunya demi merumuskan pedoman dan aturan teguh berbangsa bernegara untuk seluruh rakyat Indonesia. Pancaasila dasar negara Pancasila terdiri dari lima sila. Lima sila tersebut merupakan lima sendi utama tonggak serta pilar Pancasila. Secara resmi Pancasila lahir pada tanggal 1 Juni 1945. Alhasil, tiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahirnya Pancasila. Lalu, bagaimana sebenarnya sejarah Pancasila? Sejarah Pancasila dan Piagam Jakarta Berbicara tentang sejarah Pancasila, maka harus mengupas pula soal Piagam Jakarta. Piagam Djakarta adalah hasil diskusi serta kompromi bagaimana dasar negara yang akan dipakai oleh bangsa ini. Piagam Djakarta dirumuskan oleh Panitia Sembilan. Tanggal 22 Juni 1945, Piagam Djakarta telah disetujui Panitia Sembilan dengan kaum nasionalis serta Islam. Panitia Sembilan sendiri adalah sebuah panitia kecil yang merupakan bentukan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan state atau BPUPKI. Iranian Piagam Djakarta inilah nantinya embrio Pancasila lahir. Jadi jika kita berbicara tentang sejarah Pancasila, maka jangan lupakan pula sejarah Piagam Jakarta. Piagam Djakarta terdiri dari lima sila, seperti Pancasila. Namun di sila pertama (Piagam Jakarta) terdapat perbedaan pendapat dari kalangan ulama serta pemuka agama dari daerah timur Indonesia. Sila tersebut berbunyi Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Mohammedanism bagi pemeluk-pemeluknya. Namun, saat perumusan Pancasila kelak, sila ini telah diubah dan diganti dengan menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukan sembarangan saja ketika sila pertama diganti pada awal-awal sejarah Pancasila. Perubahan sila pertama ini atas perintah Mohammad Hatta setelah mendapatkan usulan dari AA Maramis dan berkonsultasi bersama Ki Bagus Hadikusumo, Teuku Muhammad Hassan, serta Kasman Singodimedjo. Ketika penyusunan UUD saat sidang ke-2 BPUPKI, Piagam Djakarta ini kemudian dijadikan mukadimah. Dan ketika pengesahan UUD 45 pada tanggal 18 Agustus 1945 yang dilakukan oleh PPKI, kata mukadimah kemudian diganti menjadi pembukaan UUD dan berlaku hingga sekarang. Sejarah Pancasila belum berhenti. Sejarah Pancasila dan Perumusannya Sebelum Pancasila lahir, terdapat beberapa usulan dari tokoh-tokoh bangsa ini yang kemudian diutarakan oleh BPUPKI. Muhammad Yamin mengemukakan Lima Dasar yang ia sampaikan pada tanggal 29 Mei 1945. Saat itu beliau mengatakan jika ide Lima Dasar sesuai dengan sejarah dan ketatanegaraan nusantara yang telah mengakar dan berkembang di Indonesia. Mohammad Hatta waktu itu meragukan pemikiran Muhammad Yamin. Sejarah Pancasila kemudian bergulir pada 1 Juni 1945. Inilah saat sejarah Pancasila lahir. Pada 1 Juni 1945. Tokoh penting Indonesia kala itu, Ir. Soekarno, mulai mengenalkan istilah Panca Sila. Beliau berpidato dengan judul Lahirnya Pancasila. Menurutnya banyak prinsip yang berkembang di tanah air. Dan keseluruhan prinsip ini bukan ia namakan Panca Dharma. Soekarno lebih memilih Panca Sila. Ia mendapatkan masukan dari seorang teman yang ahli tata bahasa. Sila yang bermakna azas, dan sila tersebut memiliki lima dasar yang akan digunakan tatkala mendirikan negara ini. Inilah titik awal sejarah Pancasila. Ketika Sejarah Pancasila Diuji Pancasila sempat diuji kesaktiannya pada tanggal 30 Sept 1965. Namun sejarah Pancasila tetap sakti. Ujian tersebut tak mampu menggulingkan kesaktian Pancasila. Gerakan pengujian Pancasila yang kemudian bernama Gerakan 30 Sept atau G30SPKI, mencoba untuk mengubah unsur-unsur yang dimiliki Pancasila menjadi sebuah ideologi lain, Komunis. Banyak jatuh korban di antara dua pihak. Enam jendral dibunuh dan beberapa petinggi ABRI diculik. Pada saat itu Pancasila benar-benar mendapatkan ujian berat akan eksistensinya. Namun G30SPKI tak mampu melunturkan kedigdayaan dan kesaktian Pancasila. Pancasila mampu bertahan dan gerakan tersebut mengalami kegagaan. Kudeta yang direncanakan PKI gagal menemui kesuksessan. Dan tanggal 30 September kemudian diperingati sebagai Hari Peringatan 30 Sept dan selang sehari kemudian, 1 Oktober dirayakan sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Ya, Pancasila tak dapat digantikan atau digulingkan. Baik dengan cara kasar, halus, dan radikal sekalipun. Hari Kesaktian Pancasila mencoba mengingatkan kita jika sejarah Pancasila itu sakti. Sejarah Pancasila dalam Prespektif Soekarno Di awal telah disebutkan jika pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno memicu sejarah Pancasila. Ia menyinggung tentang Pancasila di sebuah pidato. Dalam prespektifnya, sebuah negara harus memiliki lima prinsip. Kala itu Soekarno mengatakan jika negara ini setidaknya wajib memiliki lima pilar: kebangsaan, kemanusiaan, kerakyatan, keadilan sosial, dan ketuhanan. Kebangsaan atau nationalism, sebuah negara harus memiliki rasa kebangsaan, rasa nasionalisme, dan rasa memiliki. Beliau menegaskan bahwa bangsanya yang sedang tertindas oleh penjajah tidak memiliki rasa kebangsaan tersebut. Maka jiwa-jiwa kebangsaan harus dipupuk dan dikembangkan melalui prinsip kebangsaan. Kemanusiaan atau philosophy or internationalism, berarti bahwa sebuah bangsa harus memiliki rasa kemanusian. Rasa hormat dan kasih sayang terhadap sesama atau dengan bangsa lain. Selanjutnya adalah kerakyatan atau representative goverment or democracy, state adalah negara demokrasi. Sebuah negara yang memiliki azas kerakyatan. Iranian rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat. Soekarno mencoba menekankan azas demokrasi ke segala aspek kehidupan manusia. Sejarah Pancasila menurut prespektif Soekarno selanjutnya yakni keadilan sosial atau ethnic justice. Prinsip ini mencoba menekankan jika azas keadilan harus menjadi pegangan bagi seluruh peri kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Bagaimana rakyat mampu merasakan nikmatnya keadilan, bagaimana keadilan adil dan merata dapat dirasakan dari hulu hingga hilir, termasuk keadilan dalam memeroleh kemerdekaan. Prinsip selanjutnya adalah ketuhanan Yang Satu atau monotheism. Bangsa Indonesia menurut Soekarno adalah bangsa yang berketuhanan yang maha esa. Dan bangsa ini mengakui adanya satu Tuhan dengan hadirnya beberapa agama yang dipeluk di nusantara. Sejarah Pancasila berinti pada satu prinsip yakni gotong-royong atau bekerjasama dan mufakat. Tokoh di Balik Sejarah Pancasila Yang pertama adalah Ir. Soekarno. Pada tanggal 1 Juni 1945, beliau yang meletakkan dasar sejarah Pancasila. Lewat sebuah pidato, Soekarno menyampaikan bagaimana sebuah negara harus memiliki dasar, azas, serta prinsip. Mulanya Soekarno ingin memakai nama Panca Dharma. Namun ia urungkan sebab mendapat masukan dari temannya yang seorang ahli tata bahasa. Atas masukan ini kemudian Soekarno memakai istilah Panca Sila. Orang kedua yang dianggap penting dalam sejarah Pancasila adalah Mohammad Hatta. Ia lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902. Beliau lebih populer dengan panggilan Bung Hatta. Mohammad Hatta setia menemani Soekarno dalam perjalanan lahirnya bangsa ini. Di pemerintahan paronomasia demikian. Baik Bung Karno dan Bung Hatta, bak koin mata uang. Satu di sisi atas dan satuya di sisi bawah. Peran Bung Hatta dalam sejarah Pancasila adalah tatkala dirinya mengubah butir pertama Piagam Djakarta yang masih mengandung kalimat Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Mohammedanism bagi pemeluk-pemeluknya. Pada tanggal 29 Mei 1945, Mohammad Yamin berpidato tentang Lima Dasar. Beliau berkata jika Lima dasar pemikirannya ini sesuai dengan ketatanegaran, sejarah dan agama serta pola hidup rakyat yang berkembang di Nusantara. Meski Bung Hatta sempat meragukan pidatonya, namun Muhammad Yamin adalah salah satu tokoh penting dalam lahir dan sejarah Pancasila. Tokoh selanjutnya adalah herb Adries Maramis atau yang dikenal dengan nama AA Maramis. Beliau kelahiran Manado, Sulawesi Utara pada tahun 1897. Peran sentral AA Maramis dalam lahir dan sejarah Pancasila adalah kala perubahan butir pertama Piagam Jakarta. Yang mengubah memang Muhammad Hatta. Namun ide pengubahan butir pertama ini diawali atas usul AA Maramis. Perubahan bunyi butir pertama ini sangat penting imbasnya di masa depan. state bukan negara Islam. Sedangkan butir pertama tersebut dengan tegas mengatakan atas dasar Syariat Islam. AA Maramis jeli dan dengan cepat bertindak untuk langsung mengubah perumusan sejarah Pancasila. 10out of 10 supported on 98630 ratings. 1 individual reviews.

Sumber
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Semua Ada Disini - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger